Jelaga: A Weblog

September 27, 2005

Akuarium

Filed under: Personal
Akuarium

Hari Minggu lalu saya mulai membersihkan akuarium yang selama ini teronggok di sudut belakang rumah. Awalnya malas sebenarnya, karena kalau akuarium itu saya isi lagi, saya sudah membayangkan: mau tidak mau saya harus membersihkannya secara berkala. Sebab kalau tidak, bisa-bisa rumah dipenuhi bau amis tak sedap dari penghuninya (penghuni akuarium, tentu—bukan penghuni rumah). Namun saya juga kangen dengan makhluk kecil yang berenang-renang lucu di dalam air dan mampu menyuguhkan atraksi yang unik.

Ikan hias yang saya pelihara adalah jenis ikan hias air tawar. Ingin juga sih, punya akuarium berisi komunitas laut yang kelihatannya lebih indah, tapi tampaknya saya harus lebih serius mempersiapkan segala sesuatunya yang sepertinya lebih banyak memerlukan biaya. Ah itu sih kapan-kapan, sekarang yang gampang-gampang dulu aja deh.

Akmal girang banget sewaktu melihat saya mulai membersihkan dan mengelap kaca akuarium (tiga hari kemudian saya baru ketahui ternyata akuarium ini bocor sehingga saya harus menambalnya dengan lem kaca di setiap sudutnya). Akuarium ini hadiah dari kakek Akmal. Beliau membuatnya sendiri dengan ukuran yang tidak begitu umum: panjang 30 cm, lebar 30 cm, dan tinggi 60 cm. Meskipun tidak begitu leluasa sebagai tempat manuver ikan hias, bentuk seperti ini punya keuntungan karena tidak terlalu banyak memakan tempat. Saya tinggal menyediakan sebuah meja kecil sebagai tempat akuarium dan meletakkannya di salah satu sudut rumah.

Dulu saat masih tinggal di Purwakarta, akuarium ini sempat terisi berbagai macam ikan. Sebagian mati dan sebagian bertahan silih berganti. Yang masih saya ingat: 10 ekor ikan gupi (baik jenis impor yang berwarna oranye bintik-bintik hitam, maupun jenis lokal yang berwarna biru, merah, atau kuning), 8 ekor ikan neon, dan 4 ekor ikan plati pernah menjadi penghuni akuarium ini. Juga dua ekor ikan saya-lupa-namanya-apa berwarna hitam yang ternyata ganas dan menyebabkan kematian beberapa ekor ikan lainnya. Ikan kanibal ini akhirnya terpaksa saya hibahkan.

Akuarium ini sekarang berisi dua ekor ikan koki, dua ekor ikan koi, dan enam ekor ikan sumatera. Minggu depan rencananya akan saya isi dengan beberapa ekor ikan gupi.

Risiko memelihara jenis ikan berukuran besar seperti ikan koki atau ikan koi (apalagi dipelihara bersama-sama) adalah frekuensi membersihkan akuarium menjadi lebih sering. Tanpa mereka, saya biasanya menguras akuarium cukup dua minggu sekali. Ikan koki rajin makan dan rajin pula buang kotoran (pernah lihat kotoran ikan koki yang panjangnya sampai 8 cm?) sehingga membersihkan akuarium agaknya harus dilakukan lebih sering.

Namun yang jelas, setiap jenis ikan memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Ikan gupi dengan ekornya yang berkibar-kibar, gerombolan ikan neon dengan pinggangnya yang bercahaya terang, ikan plati yang mantap seperti kapal selam dan gampang beranak, ikan koki dengan perutnya yang buncit, bintik merah di punggung koi, dan kegesitan ikan sumatera yang saling berkejaran bisa menjadi hiburan menyenangkan di tengah keluarga.

PINDAH. Pemilik blog ini telah pindah rumah ke http://priatna.or.id. Silakan berkunjung. Mampir juga ya, di situs Silsilah Keluarga, siapa tahu kita bersaudara! :)

Comments »

The URI to TrackBack this entry.
RSS feed for comments on this post.

No comments yet.


Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here