<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Jelaga: A Weblog</title>
	<link>http://jelaga.blogsome.com</link>
	<description>Ketika perjalanan baru saja dimulai...</description>
	<pubDate>Wed, 22 Feb 2006 07:07:15 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Rumah Baru</title>
		<link>http://jelaga.blogsome.com/2006/02/22/rumah-baru/</link>
		<comments>http://jelaga.blogsome.com/2006/02/22/rumah-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2006 04:26:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapri</dc:creator>
		
	<category>Personal</category>
	<category>Blogs</category>
		<guid>http://jelaga.blogsome.com/2006/02/22/rumah-baru/</guid>
		<description><![CDATA[	Sudah sejak seminggu lalu, saya memiliki rumah baru di dunia maya. Domain priatna.or.id saya peroleh gratis dari Depkominfo. Untuk kepemilikan domain .ID, Anda pun tentu dapat melakukan hal yang sama dengan mendaftar di Sistem Pengelolaan Domain .ID Kominfo.  Untuk hosting, saya percayakan kepada whplus, penyedia layanan hosting yang murah tetapi tidak murahan.
	Isi blog di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sudah sejak seminggu lalu, saya memiliki <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://priatna.or.id">rumah baru</a> di dunia maya. Domain priatna.or.id saya peroleh gratis dari Depkominfo. Untuk kepemilikan domain .ID, Anda pun tentu dapat melakukan hal yang sama dengan mendaftar di <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?https://register.net.id/">Sistem Pengelolaan Domain .ID Kominfo</a>.  Untuk <em>hosting</em>, saya percayakan kepada <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://whplus.com/">whplus</a>, penyedia layanan hosting yang murah tetapi tidak murahan.</p>
	<p>Isi blog di sini saya pindahkan dengan mengikuti petunjuk dari <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://dgk.or.id/archives/2005/09/19/migrasi-blogsome-ke-wordpress-pribadi/">Dudi Gurnadi</a>. Terima kasih, Dudi.</p>
	<p>Terima kasih juga untuk Blogsome yang telah menyediakan tempat <em>ngeblog</em> gratis selama ini. Pelayanan Blogsome selama ini sangat asyik. Di antara layanan sejenis, saya berani mengatakan bahwa Blogsome adalah yang terbaik! Saya meninggalkan Blogsome bukan karena tak cinta lagi, tetapi banyak hal yang ingin saya jajal, yang tak mungkin saya peroleh di sini, dan (apalagi) di layanan gratis lainnya. Salah satunya adalah proyek pribadi saya: <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://silsilah.priatna.or.id">silsilah.priatna.or.id</a>.</p>
	<p>Walaupun demikian, jangan khawatir, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://gerentes.blogsome.com">blog saya yang lain</a> masih tetap saya simpan di Blogsome. <img src='http://jelaga.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
	<p>Jadi, ini adalah entri terakhir saya di sini; entri selanjutnya akan saya lakukan di blog saya yang baru.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jelaga.blogsome.com/2006/02/22/rumah-baru/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Duh, Akmal!</title>
		<link>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/18/duh-akmal/</link>
		<comments>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/18/duh-akmal/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2006 06:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapri</dc:creator>
		
	<category>Personal</category>
		<guid>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/18/duh-akmal/</guid>
		<description><![CDATA[	


	Punya anak berumur 4 tahun memang menyenangkan, tapi terkadang menyebalkan juga. Dulu waktu dia belum bisa bicara, saya dan istri tak sabar, sering kali &#8220;menggugat&#8221; si kecil, &#8220;Kapan nih, Akmal bisa ngomong? Biar kita bisa ngobrol-ngobrol, ya.&#8221;
	Sekarang umurnya sudah hampir 4 tahun, sudah lama bisa berbicara, bahkan terus-menerus bicara. Cerewet minta ampun! Kecuali dia sedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div class="alpha-shadow" style="margin: 5px 0 5px 15px !important;">
<div><img src="/images/akmal_01.jpg" alt=" " /></div>
</div>
	<p>Punya anak berumur 4 tahun memang menyenangkan, tapi terkadang menyebalkan juga. Dulu waktu dia belum bisa bicara, saya dan istri tak sabar, sering kali &#8220;menggugat&#8221; si kecil, &#8220;Kapan nih, Akmal bisa <em>ngomong</em>? Biar kita bisa <em>ngobrol-ngobrol</em>, ya.&#8221;</p>
	<p>Sekarang umurnya sudah hampir 4 tahun, sudah lama bisa berbicara, bahkan terus-menerus bicara. Cerewet minta ampun! Kecuali dia sedang tertidur, saya belum pernah mendengar dia berhenti berbicara. Ada saja yang dia bicarakan, yang dia tanyakan. Jangan berharap dia akan berhenti bertanya sebelum jawaban kita memuaskannya. Menjengkelkan? Kadang. Tentu saja saya dan ibunya dengan sabar terus menjawab dan tidak menukas, &#8220;Udah ah, berisik. Tanya-tanya melulu!&#8221; Saya takut dia malah benar-benar berhenti bertanya. <img src='http://jelaga.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <a id="more-37"></a></p>
	<p>Pagi hari. Akmal bangun membuka-buka tumpukan majalah.</p>
	<p>&#8220;Lho lho lho. Umi, kok ada majalah Aa sih di sini?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Majalah apa?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Ini!?! Niiiih. Mombi punya Aa yang baru kok disimpan di bawah?&#8221;</p>
	<p>Umi rupanya sengaja menyembunyikan dulu majalah itu, biar bisa bersih-bersih rumah di pagi hari, sebelum &#8220;direweli&#8221; Akmal dengan Mombi barunya.</p>
	<p>&#8220;Iya, kan biar nanti siang aja belajarnya.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Kok begitu sih Mi? Kan Aa belajarnya mau sekarang. Gimana sih Umi. Masa Mombi Aa disimpan di bawah? Kan jadinya gak keliatan. Nih, Mi, niiiih, kalo nyimpan Mombi itu di ataaaas, niiiih, jangan di bawah&#8230;&#8221; dan seterusnya. Selama lima belas menit ke depan, Akmal akan terus membuntuti ke mana pun Umi pergi sambil sibuk &#8220;menggerutu&#8221;.</p>
	<p>Siang hari. Akmal mendekati stopkontak sambil membawa steker.</p>
	<p>&#8220;Eh, Akmal, jangan mainin steker gitu.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Nanti apa?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Nanti kesetrum.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Nanti apa?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Nanti gosong.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Kalo gosong nanti apa?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Nanti sakit.&#8221;</p>
	<p>Sambil tetap mendekati stop kontak, &#8220;Nanti ke rumah sakit aja.&#8221;</p>
	<p>Umi jengkel, &#8220;Eehh, apa Akmal mau disetrum?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Umi kok jahat? Masa Akmal mau disetrum? Nanti gosong dong. Umi mau disterum juga? Kan enggak mau, kan? Nanti kan sakit. Kalo ke rumah sakit itu jauh. Aa enggak mau&#8230;&#8221; Dan seterusnya, sampai sepuluh menit ke depan.</p>
	<p>Sore hari. Umi sedang menonton berita di televisi. Akmal mengambil <em>remote</em>.</p>
	<p>&#8220;Lho, Akmal! Umi kan lagi liat berita, kok dipindahin?&#8221;</p>
	<p>&#8220;Remot kan buat mindah-mindahin, Mi.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Iya, tapi Umi kan lagi liat berita, jangan mainin remot dong.&#8221;</p>
	<p>&#8220;Umi, kalo mindahinnya di tipi itu gak bisa. Nih, niiiiihhh. Tuh kan gak bisa.&#8221;</p>
	<p>Saya memang sengaja mengunci tombol pemindah saluran di televisi.</p>
	<p>&#8220;Bukan begitu. Aa jangan dulu oprek-oprek remot dong. Umi kan mau liat berita dulu.&#8221;</p>
	<p>Sambil pencet-pencet tombol di televisi, &#8220;Jadi Aa mindahinnya di tipi aja nih? Kan gak bisa? Tuh kan gak bisa kan? Makanya pake remot aja. Remot kan buat mindah-mindahin. Tuh kan pindah kan? Nih kalo ini nomer satu, ini nomer dua. Aa mau liat nomor empat.&#8221;</p>
	<p>Duh, Akmal!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/18/duh-akmal/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sudoku</title>
		<link>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/05/sudoku/</link>
		<comments>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/05/sudoku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2006 01:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapri</dc:creator>
		
	<category>Puzzles</category>
		<guid>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/05/sudoku/</guid>
		<description><![CDATA[	


	Sudoku (atau ada pula yang menulisnya Su Doku) adalah sebuah puzzle yang didasarkan pada konsep Latin Square. Latin Square sendiri diperkenalkan pada tahun 1783 oleh Leonhard Euler, seorang matematikawan asal Swiss. 
	Papan Sudoku terbuat dari sembilan buah kotak berukuran 3x3 (kita sebut saja blok) yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan kotak besar berukuran 9x9. Beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div class="alpha-shadow" style="margin: 5px 0 5px 15px !important;">
<div><img src="/images/sudoku.jpg" alt="Sudoku" /></div>
</div>
	<p>Sudoku (atau ada pula yang menulisnya Su Doku) adalah sebuah <em>puzzle</em> yang didasarkan pada konsep <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://jelaga.blogsome.com/2005/04/07/kotak-ajaib/"><em>Latin Square</em></a>. <em>Latin Square</em> sendiri diperkenalkan pada tahun 1783 oleh <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://en.wikipedia.org/wiki/Leonhard_Euler">Leonhard Euler</a>, seorang matematikawan asal Swiss. </p>
	<p>Papan Sudoku terbuat dari sembilan buah kotak berukuran 3x3 (kita sebut saja blok) yang disusun sedemikian rupa sehingga menghasilkan kotak besar berukuran 9x9. Beberapa kotak sudah diisi sebagai petunjuk awal dan tugas pemain adalah melengkapi angka-angka pada kotak yang lain sehingga keseluruhan papan permainan terisi secara lengkap. Tentu saja permainan ini ada aturannya, tetapi amatlah sederhana: kotak-kotak pada setiap baris, kolom, dan blok harus berisi sebuah angka yang unik dari 1 hingga 9. Angka-angka ini sebenarnya tidak memiliki hubungan aritmetis satu sama lain. Anda boleh menggantinya dengan 9 huruf, lambang, bahkan warna yang berbeda. <a id="more-36"></a></p>
	<p>Jika Anda mengira bahwa <em>puzzle</em> ini berasal dari Negeri Matahari Terbit, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://observer.guardian.co.uk/uk_news/story/0,6903,1484328,00.html">Anda salah</a>. Nama <em>puzzle</em> ini memang berbahasa Jepang, tetapi asalnya bukanlah dari sana. Permainan ini tadinya bernama <em>Number Place</em> dan pertama kali dipublikasikan pada tahun 1979 dalam sebuah majalah khusus <em>puzzle</em>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.dellmagazines.com/"><em>Dell Puzzle Magazines</em></a>, di Manhattan, New York, dan terus berlangsung sampai sekarang. Adalah Howard Garns, seorang mantan arsitek, meninggal tahun 1989, yang paling &#8220;dicurigai&#8221; sebagai orang yang menciptakan permainan ini ketika dia berusia 74 tahun.</p>
	<p>Tahun 1984 <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.nikoli.co.jp/en/">Nikoli</a>, sebuah perusahaan penerbitan, membawa permainan ini ke Jepang dan menerbitkannya di sebuah media cetak khusus puzzle miliknya, <em>Monthly Nikolist</em>. Mereka menamakannya <em>Suuji Wa Dokushin Ni Kagiru</em>, disingkat <em>Sudoku</em> dan mematenkan kata ini. Media lain pun kemudian menerbitkan permainan ini dengan nama aslinya, <em>Number Place</em>. Mulai saat itulah permainan ini &#8220;mewabah&#8221; di Jepang. Lebih dari 600.000 majalah tentang Sudoku terjual di Jepang setiap bulannya. Lucunya, mereka lebih senang menyebutnya <em>Number Place</em>, sementara orang di luar Jepang menamakannya <em>Sudoku</em>.</p>
	<p>Dari Jepang, <em>puzzle</em> ini kemudian &#8220;ditemukan&#8221; oleh <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://en.wikipedia.org/wiki/Wayne_Gould">Wayne Gould</a>, seorang pensiunan hakim asal <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.matamata-info.co.nz/">Matamata</a>, Selandia Baru, ketika dia pada tahun 1997 berbelanja di sebuah toko buku di Tokyo. Gambar kotak-kotak berisi angka itu langsung menarik perhatiannya dan dia pun menjadi pecandu berat permainan ini. Dia pun kemudian&mdash;selama lebih dari 6 tahun&mdash;menulis sebuah program komputer agar soal permainan ini bisa dibangun secara lebih cepat. Gould lalu menawarkannya pada <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.timesonline.co.uk/"><em>The Times</em></a>, Inggris, yang kemudian menerbitkannya pada akhir tahun 2004 dengan nama <em>Su Doku</em>. Sampai saat ini, <em>Times</em> menerbitkan Su Doku setiap hari, menggunakan program buatan Gould ini. Gould pun kemudian menjual <em>puzzle</em> ini di <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.sudoku.com/">situsnya</a>. Dia menargetkan penghasilan satu juta dollar untuk tahun ini dari penjualan perangkat lunak dan royalti buku-bukunya.</p>
	<p>Sudoku menjadi benar-benar mewabah di Inggris ketika <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.telegraph.co.uk"><em>The Daily Telegraph</em></a> mengenalkannya pada pembacanya pada bulan Februari 2005. Media lain pun kemudian mengikuti dengan menyediakan permainan ini di edisinya masing-masing. Pertengahan Mei 2005 adalah awal demam Sudoku. Segala hal tentang Sudoku menjadi ladang uang: pemuatan di koran harian, penerbitan buku, penerbitan majalah, pertunjukkan televisi, siaran radio, pelayanan langganan lewat email, dan penyediaan layanan di telepon genggam. Khusus untuk buku, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.newsandstar.co.uk"><em>News &#038; Star</em></a> mencatat bahwa <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.newsandstar.co.uk/opinion/viewarticle.aspx?id=268552">6 dari 10 buku nonfiksi yang paling laris saat ini adalah buku tentang Sudoku</a>. Hal ini cukup membuat J.K. Rowling, penulis serial Harry Potter, diberitakan khawatir akan kelancaran penjualan buku-bukunya. Dari Inggris, Sudoku kemudian menyebar di daratan Eropa, dari Prancis sampai Slowakia, lalu menular pula ke Australia dan Amerika. <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.maa.org/editorial/mathgames/mathgames_09_05_05.html">Variasi Sudoku</a> pun kemudian dibuat.</p>
	<p>Menjalarnya demam Sudoku ke seluruh dunia dimungkinkan karena untuk menyelesaikan permainan ini tidak diperlukan pengetahuan umum, kepandaian atas bahasa tertentu, juga kemampuan matematika. Anda hanya memerlukan kecermatan, kesabaran, dan logika.</p>
	<p>Bagaimana di Indonesia? Akankah virus Sudoku, yang disebut-sebut sebagai virus <em>puzzle</em> yang paling cepat menyebar di seluruh dunia, juga akan hinggap di sini? Saya menemukan beberapa edisi buku Sudoku di toko buku <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.gramedia.com/">Gramedia</a>, tapi tidak tahu apakah buku ini termasuk laris atau tidak. Koran <em>Kompas</em> menurunkan <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/24/Sosok/2148353.htm">berita tentang Sudoku</a> pada bulan Oktober 2005, tetapi tidak mencoba memuat permainan ini di edisi Minggu; pun majalah bulanan <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.intisari-online.com/majalah.asp">Intisari</a>, yang memiliki tradisi memuat <em>puzzle</em> di setiap edisinya.</p>
	<p><strong>Tautan:</strong><br />
1. <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://blogsearch.google.com/blogsearch?hl=en&#038;q=sudoku&#038;btnG=Search+Blogs">Blog</a> tentang Sudoku.<br />
2. Sudoku <em>online</em>: <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.websudoku.com/">Web Sudoku</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.cambridge-news.co.uk/lifestyle/games/sudoku.lpf">CEN Lifestyle</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.number-logic.com/">Number Logic</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.lovatts.com.au/sudoku/sudoku.htm">Lovatts</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.saidwhat.co.uk/sudokus/index.php">Said What?</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.mousebreaker.com/games/sudoku/play.php">Mousebreaker</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.sudoku-puzzles.net/">Sudoku Puzzles</a>.<br />
3. Sudoku <em>offline</em>: <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.fingertime.com/xtra/sudokupdf.php">Fingertime</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.sudoku-puzzles.net/">Sudoku Puzzles</a>.<br />
4. Sudoku dan blogger Indonesia: <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://almost25.blogspot.com/2005/12/sudoku-mania.html">Almost 25</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://pumz.blogspot.com/2005/12/games-su-doku-su-doku-su-doku.html">Pumz passion</a>.<br />
5. Perangkat lunak Sudoku: <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.angusj.com/sudoku/index.php">Simple Sudoku</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.rorohiko.com/frame-pages/r-sudoku.html">Sudoku Generator</a>, <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.gwerdy.com/products/sudoku_solver/index.php">Gwerdy</a>, dan <a href="http://jelaga.blogsome.com/go.php?http://www.download.com/3120-20_4-0.html?tag=srch&#038;qt=sudoku&#038;tg=dl-2001&#038;search.x=0&#038;search.y=0&#038;search=+Go%21">lainnya</a>.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jelaga.blogsome.com/2006/01/05/sudoku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Pelafalan Bilangan Desimal</title>
		<link>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/27/pelafalan-bilangan-desimal/</link>
		<comments>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/27/pelafalan-bilangan-desimal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2005 04:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapri</dc:creator>
		
	<category>Matematika</category>
		<guid>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/27/pelafalan-bilangan-desimal/</guid>
		<description><![CDATA[	


	Bagaimana Anda melafalkan bilangan desimal ini: 1,23. Apakah satu koma dua tiga ataukah satu koma dua puluh tiga?
	Telinga saya sering kali terganggu jika ada&mdash;terutama pembaca berita di televisi&mdash;yang melafalkan bilangan desimal dengan cara kedua. Bilangan desimal 1,23 seharusnya dibaca satu koma dua tiga bukannya satu koma dua puluh tiga. Tidak ada puluhan atau belasan atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div class="alpha-shadow" style="margin: 5px 0 5px 15px !important;">
<div><img src="/images/desimal.jpg" alt="Image taken from gettyimages.com" /></div>
</div>
	<p>Bagaimana Anda melafalkan bilangan desimal ini: 1,23. Apakah <em>satu koma dua tiga</em> ataukah <em>satu koma dua puluh tiga</em>?</p>
	<p>Telinga saya sering kali terganggu jika ada&mdash;terutama pembaca berita di televisi&mdash;yang melafalkan bilangan desimal dengan cara kedua. Bilangan desimal 1,23 seharusnya dibaca <em>satu koma dua tiga</em> bukannya <em>satu koma dua puluh tiga</em>. Tidak ada puluhan atau belasan atau ratusan atau jutaan dan seterusnya, di bagian desimal sebuah bilangan.</p>
	<p>Anda harus membaca <em>dua belas koma satu dua</em> (bukan <em>dua belas koma dua belas</em>) untuk bilangan desimal 12,12. Bilangan desimal 3,123 harus dibaca <em>tiga koma satu dua tiga</em> dan bukan <em>tiga koma seratus dua puluh tiga</em>.</p>
	<p>Itu pelafalan yang benar dan logis, karena jika Anda konsisten dengan cara pelafalan kedua, maka bilangan desimal 3,3333333 harus Anda baca sebagai <em>tiga koma tiga juta tiga ratus tiga puluh tiga ribu tiga ratus tiga puluh tiga</em>. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/27/pelafalan-bilangan-desimal/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Habis Dibagi</title>
		<link>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/13/habis-dibagi/</link>
		<comments>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/13/habis-dibagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2005 04:19:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kapri</dc:creator>
		
	<category>Tips</category>
	<category>Matematika</category>
	<category>Hiburan</category>
		<guid>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/13/habis-dibagi/</guid>
		<description><![CDATA[Ah ya. Istilah “habis dibagi” sudah terbiasa diberlakukan pada pasangan bilangan (penyebut dan pembagi) dengan syarat bahwa hasil pembagian merupakan bilangan bulat yang sama besarnya. Satu hal yang salah kaprah jika istilah ini ingin ditinjau dari segi etimologi. Belum lagi kenyataan bahwa bilangan 5 juga habis dibagi 2 dengan komposisi 1 dan 4.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div class="alpha-shadow" style="margin: 5px 0 5px 15px !important;">
<div><img src="/images/digit.jpg" alt=" " /></div>
</div>
	<p>Sebuah percakapan filosofis terjadi pada suatu hari:</p>
	<p>“Di antara bilangan 1 sampai 11, bilangan mana sajakah yang habis dibagi 2?”<br />
“2, 4, 6, 8, dan 10.”<br />
“Bilangan lainnya gak habis dibagi 2 ya?”<br />
“Ya nggak lah.”<br />
“Menurutku sih semuanya habis dibagi 2.”<br />
“Oh ya? Terus, bagaimana 5 bisa habis dibagi 2?”<br />
“Dua setengah dan dua setengah.” <a id="more-33"></a></p>
	<p>Ah ya. Istilah “habis dibagi” sudah terbiasa diberlakukan pada pasangan bilangan (penyebut dan pembagi) dengan syarat bahwa hasil pembagian merupakan bilangan bulat yang sama besarnya. Satu hal yang salah kaprah. Belum lagi kenyataan bahwa bilangan 5 juga habis dibagi 2 dengan komposisi 1 dan 4.</p>
	<p>Tapi sudahlah, kita terima saja istilah “habis dibagi” ini dengan istilah yg sudah memasyarakat. Di sini saya hanya ingin menuliskan fakta yg menarik berkenaan dengan hal ini.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 2.</strong> Bagaimana Anda tahu dengan cepat, hanya dengan melihat angkanya, bahwa sebuah bilangan habis dibagi 2? Gampang! <del>Setiap bilangan genap pasti habis dibagi 2.</del> Setiap bilangan yang digit terakhirnya adalah 0, 2, 4, 6, atau 8 pasti habis dibagi dua.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 3.</strong> Bagaimana dengan bilangan yang habis dibagi 3? Anda bisa jumlahkan setiap digit dari angkanya. Jika hasilnya habis dibagi 3, maka angka yg tadi juga habis dibagi 3.</p>
	<p>Contoh, apakah 25341 habis dibagi 3? Jumlahkan digit-digitnya: 2+5+3+4+1=15. Sudah terlihat bahwa 15 habis dibagi 3. Maka 25341 juga pasti habis dibagi 3. (Anda juga boleh menambahkan digit-digit di angka 15: 1+5=6. Enam juga habis dibagi 3).</p>
	<p><strong>Habis dibagi 4.</strong> Ciri bilangan yang habis dibagi 4 adalah dua digit terakhir pada bilangan tersebut habis dibagi 4. Jadi, 3875920394754924 pasti habis dibagi 4, sedangkan 48923742637807 pasti tidak habis dibagi 4.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 5.</strong> Jika digit terakhir suatu bilangan adalah 0 atau 5, maka bilangan tersebut pasti habis dibagi 5.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 6.</strong> Bagaimana dengan 6? Kita lihat. Enam memiliki 2 dan 3 sebagai faktornya. Maka bisa kita pastikan bahwa bilangan yang habis dibagi 6 adalah bilangan yang habis dibagi 2 DAN juga habis dibagi 3, yakni bilangan genap yang jika digit-digitnya dijumlahkan maka hasilnya habis dibagi 3. </p>
	<p>Contoh, 25341 tidak habis dibagi 6, tetapi 25314 habis dibagi 6.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 7.</strong> Bagaimana dengan bilangan yang habis dibagi 7? Apa ciri-cirinya? Hmm, yang ini agak tidak biasa, tapi mudah. Ambil digit terakhir dari bilangan tersebut, lalu kalikan dengan 2. Hasilnya Anda kurangkan dari digit-digit yang tersisa pada bilangan asal. Jika hasilnya bisa dibagi 7, maka bilangan tadi juga pasti bisa dibagi 7.</p>
	<p>Contoh, apakah 17192 habis dibagi 7? Ambil digit terakhir dan kalikan 2: 2x2=4. Kurangkan dari digit yg tersisa: 1719-4=1715. Apakah 1715 habis dibagi 7? Kita ulangi lagi prosedur yang sama: 171-(5x2)=161. Uji lagi: 16-(1x2)=14. Ya, karena 14 habis dibagi 7 maka sudah pasti 17192 pun habis dibagi 7.</p>
	<p>Kalau bilangan yang akan diuji terdiri dari 3 atau 4 digit, ada cara yang lebih mudah. Ambil dua digit terakhir, dan kalikan digit yg tersisa dengan 2. Tambahkan hasilnya dengan dua digit yang tadi Anda ambil. Jika hasilnya habis dibagi 7, maka bilangan tadi pun habis dibagi 7.</p>
	<p>Contoh, apakah 1841 habis dibagi 7? Mari kita uji. Ambil 41, kalikan 18 dengan 2, hasilnya 36. Tambahkan 36 dengan 41, hasilnya 77. Jumlah 77 jelas habis dibagi 7, sehingga 1841 juga pasti habis dibagi 7.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 8.</strong> Kalau ciri bilangan yang habis dibagi 8, <em>gimana</em>? Lihat saja tiga digit terakhir, jika habis dibagi 8 maka keseluruhan bilangan pun habis dibagi 8.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 9.</strong> Sebuah bilangan akan habis dibagi 9 jika jumlah digit-digitnya juga habis dibagi 9. Jadi, 4078935 habis dibagi 9 karena 4+0+7+8+9+3+5=36 habis dibagi 9.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 10.</strong> Ciri sebuah bilangan yang habis dibagi 10 dapat diterka dengan mudah. Ya, semua bilangan yg digit terakhirnya adalah 0, habis dibagi 10.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 11.</strong> Untuk menguji apakah sebuah bilangan habis dibagi 11, agak sedikit unik. Pertama, jumlahkan digit-digit pada posisi ganjil (dimulai dari kanan), lalu jumlahkan juga digit-digit pada posisi genap. Jika selisihnya bisa dibagi 11, maka bilangan tersebut pun habis dibagi 11.</p>
	<p>Contoh, apakah 35820708 habis dibagi 11? Kita uji. Jumlah digit pada posisi ganjil (ingat, posisi dimulai dari arah kanan) adalah 8+7+2+5=22. Jumlah digit pada posisi genap adalah 0+0+8+3=11. Selisihnya adalah 22-11=11, habis dibagi 11. Maka 35820708 pun pasti habis dibagi 11.</p>
	<p><strong>Habis dibagi 12.</strong> Bagaimana menguji sebuah bilangan habis dibagi 12? Hm, karena 12 memiliki faktor 3 dan 4, maka bilangan yang habis dibagi 12 adalah bilangan yg habis dibagi 3 DAN juga habis dibagi 4. Silakan Anda susun sendiri rumusnya. <img src='http://jelaga.blogsome.com/wp-images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
	<p><strong>Habis dibagi 13.</strong> Lanjut. Untuk menguji sebuah bilangan habis dibagi 13 hampir sama dengan cara menguji bilangan yang habis dibagi 7. Ambil digit terakhir, dan kalikan dengan 9. Kemudian kurangkan hasilnya dengan digit yang tersisa. Jika hasilnya habis dibagi 13, maka keseluruhan bilangan pun habis dibagi 13.</p>
	<p>Contoh, apakah 211042 habis dibagi 13? Ambil digit terakhir, dan kalikan 9: 2x9=18. Kurangkan hasilnya dengan digit yg tersisa: 21104-18=21086. Apakah 21086 habis dibagi 13? Kita uji lagi: 2108-(6x9)=2054. Uji lagi: 205-(4x9)=169. Lagi: 16-(9x9)=-65, dan habis dibagi 13. Maka 211042 pun habis dibagi 13. </p>
	<p>Selanjutnya silakan Anda buat sendiri. Misalnya untuk menguji apakah sebuah bilangan habis dibagi 14, Anda tinggal memerhatikan bahwa faktor dari 14 adalah 2 dan 7. Dari patokan di atas, rumus untuk bilangan lain pun bisa disusun dengan mudah.</p>
	<p>Terakhir, saya sebenarnya bertanya-tanya. Ini gunanya untuk apa, sih?
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jelaga.blogsome.com/2005/12/13/habis-dibagi/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
